"Sungai Kampar"
Bono Tidal Wave
Mungkin
beberapa dari kita tidak percaya sungai dapat dijadikan tempat
berselancar karena pada umumnya sungai tidak memiliki ombak seperti
halnya di pantai. Tapi faktanya memang benar-benar ada sungai yang
memiliki ombak, bahkan ombak tersebut bisa memiliki ukuran yang lumayan
besar sehingga dapat dijadikan objek berselancar. Di dunia ini ada 2
sungai yang memiliki ombak yang tergolong besar yang dapat dijadikan
tempat berselancar. Yang pertama adalah sungai Amazon di Brazil dan yang
lainnya adalah sungai Kampar di Pelawan, Riau, Indonesia. Ombak di
sungai Kampar oleh penduduk sekitar disebut dengan nama "BONO". Ombak
bono disebut-sebut lebih besar daripada ombak yang ada di sungai Amazon.
Ombak Bono adalah fenomena yang disebabkan oleh tarikan gravitasi bulan, khususnya pada bulan purnama dan bulan baru. Hal tersebut menyebabkan permukaan laut di selat Malaka dan laut Cina Selatan meningkat sehingga arus pasang air laut akan bertemu dengan arus sungai dan melahirkan gelombang pasang raksasa yang menyapu masuk ke dalam sungai Kampar
sejauh 50 hingga 60 km.
Ketika
sisi depan gelombang pasang melaju masuk ke muara sungai yang menyempit
dan bertemu perairan dangkal sungai Kampar, hal ini menciptakan ombak
yang bisa mencapai tinggi 2 meter bahkan hingga 4-7 meter apabila pada
saat bulan purnama. Ombak ini melaju ke hilir melawan arah arus sungai
selama 2 jam, sebelum akhirnya menghilang. Seringkali muncul 6 hingga 13
ombak berurutan tergantung dari kontur dan kedalaman dasar sungai.
Ombaknya kecil di bagian muara, lalu membesar seiring penyempitan hilir
sungai. Ombak ini melaju melawan arus sungai yang disertai suara gemuruh
keras mirip suara gemuruh tsunami dan kabut air yang mengiringi
fenomena ombak pasang ini.
Masyarakat
Indonesia ataupun Riau itu sendiri banyak yang belum pernah melihat
Bono. Tetapi banyak bule dari mancanegara sudah akrab dengan Bono. Dalam tiga tahun terakhir ini Bono telah menjadi buah bibir peselancar dari berbagai negara.
Para turis mancanegara tersebut menyebut ombak Bono sebagai "Seven
Ghost" ( Tujuh Hantu ). Para peselancar dari berbagai negara sudah
pernah berhadapan dan sangat kagum dengan Bono. Ombak sungai Kampar yang
besar tersebut dapat memacu adrenalin para peselancar kelas dunia.
Hanya orang-orang berpengalaman yang punya skill dan nyali serta mental
yang kuat yang bisa berselancar menguasai arus dahsyat sungai tersebut.
Bagi anda pemula, jangan pernah mencoba berselancar di tempat ini.
Pasalnya, peralatan yang digunakan harus memenuhi syarat keselamatan,
misalnya untuk menghindari resiko tergulung lumpur yang terkandung di
dalam sungai itu.
Ombak Bono dulu merupakan sosok yang menakutkan, karena sudah banyak kapal yang menjadi korban, bahkan pada tahun 1996 pernah memakan korban
sekitar 60 orang. Tidak hanya itu, apabila ombak Bono telah lewat, maka
kejadian berikutnya adalah munculnya air sungai deras yang mengikuti
ombak-ombak tersebut. Kejadian ini bagaikan derasnya air ketika tsunami
melanda Aceh ataupun Jepang. Jika ada yang terseret, entah di mana
nantinya tersangkut. Derasnya air ini akan sampai ke Desa Teluk Meranti
dan terus masuk ke hulu sungai beberapa kilometer lagi. Di Desa Teluk
Meranti, derasnya air sungai akibat Bono ini menyebabkan banjir di
seluruh desa. Untungnya, rumah-rumah penduduk dibuat tinggi menjadi
rumah panggung agar terhindar dari kemasukan air. Meskipun terlihat
seperti bencana, penduduk setempat menganggapnya sebagai sesuatu yang
lumrah. Banjir itu menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar