Halaman

Kamis, 20 Juni 2013

"Sungai Kampar"
Bono Tidal Wave

Mungkin beberapa dari kita tidak percaya sungai dapat dijadikan tempat berselancar karena pada umumnya sungai tidak memiliki ombak seperti halnya di pantai. Tapi faktanya memang benar-benar ada sungai yang memiliki ombak, bahkan ombak tersebut bisa memiliki ukuran yang lumayan besar sehingga dapat dijadikan objek berselancar. Di dunia ini ada 2 sungai yang memiliki ombak yang tergolong besar yang dapat dijadikan tempat berselancar. Yang pertama adalah sungai Amazon di Brazil dan yang lainnya adalah sungai Kampar di Pelawan, Riau, Indonesia. Ombak di sungai Kampar oleh penduduk sekitar disebut dengan nama "BONO". Ombak bono disebut-sebut lebih besar daripada ombak yang ada di sungai Amazon.


Ombak Bono adalah fenomena yang disebabkan oleh tarikan gravitasi bulan, khususnya pada bulan purnama  dan bulan baru. Hal tersebut menyebabkan permukaan laut di selat Malaka dan laut Cina Selatan meningkat sehingga arus pasang air laut akan bertemu dengan arus sungai dan melahirkan gelombang pasang raksasa yang menyapu masuk ke dalam sungai Kampar
sejauh 50 hingga 60 km.

 Ketika  sisi depan gelombang pasang melaju masuk ke muara sungai yang menyempit dan bertemu perairan dangkal sungai Kampar, hal ini menciptakan ombak yang bisa mencapai tinggi 2 meter bahkan hingga 4-7 meter apabila pada saat bulan purnama. Ombak ini melaju ke hilir melawan arah arus sungai selama 2 jam, sebelum akhirnya menghilang. Seringkali muncul 6 hingga 13 ombak berurutan tergantung dari kontur dan kedalaman dasar sungai. Ombaknya kecil di bagian muara, lalu membesar seiring penyempitan hilir sungai. Ombak ini melaju melawan arus sungai yang disertai suara gemuruh keras mirip suara gemuruh tsunami dan kabut air yang mengiringi fenomena ombak pasang ini.
Masyarakat Indonesia ataupun Riau itu sendiri banyak yang belum pernah melihat Bono. Tetapi banyak bule dari mancanegara sudah akrab dengan Bono. Dalam tiga tahun terakhir ini Bono telah menjadi buah bibir peselancar dari berbagai negara. Para turis mancanegara tersebut menyebut ombak Bono sebagai  "Seven Ghost" ( Tujuh Hantu ). Para peselancar dari berbagai negara sudah pernah berhadapan dan sangat kagum dengan Bono. Ombak sungai Kampar yang besar tersebut dapat memacu adrenalin para peselancar kelas dunia. Hanya orang-orang berpengalaman yang punya skill dan nyali serta mental yang kuat yang bisa berselancar menguasai arus dahsyat sungai tersebut. Bagi anda pemula, jangan pernah mencoba berselancar di tempat ini. Pasalnya, peralatan yang digunakan harus memenuhi syarat keselamatan, misalnya untuk menghindari resiko tergulung lumpur yang terkandung di dalam sungai itu.


Ombak Bono dulu merupakan sosok  yang menakutkan, karena sudah banyak kapal yang menjadi korban, bahkan pada tahun 1996 pernah memakan korban sekitar 60 orang. Tidak hanya itu, apabila ombak Bono telah lewat, maka kejadian berikutnya adalah munculnya air sungai deras yang mengikuti ombak-ombak tersebut. Kejadian ini bagaikan derasnya air ketika tsunami melanda Aceh ataupun Jepang. Jika ada yang terseret, entah di mana nantinya tersangkut. Derasnya air ini akan sampai ke Desa Teluk Meranti dan terus masuk ke hulu sungai beberapa kilometer lagi. Di Desa Teluk Meranti, derasnya air sungai akibat Bono ini menyebabkan banjir di seluruh desa. Untungnya, rumah-rumah penduduk dibuat tinggi menjadi rumah panggung agar terhindar dari kemasukan air. Meskipun terlihat seperti bencana, penduduk setempat menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah. Banjir itu menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak.


Kini ombak Bono telah menjadi objek wisata bagi peselancar mancanegara dan menjadi objek wisata andalan bagi Pemda Kabupaten Pelalawan. Keberanian peselancar kelas dunia menunggangi Bono akan di uji di sungai ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar